Keesokan harinya, setelah memastikan bahwa kondisi Leena sudah membaik, Lynx dan Leena duduk berhadapan di dalam gua, memanfaatkan sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah dinding gua. Suara alam di luar menambah suasana, meskipun tetap ada ketegangan di dalam hati mereka tentang apa yang mungkin terjadi setelah hari-hari sebelumnya.

“Leena,” kata Lynx, memecah keheningan. “Kita perlu membahas tentang tanda SOS yang kita buat sebelumnya. Apakah kamu ingat di mana kita membuatnya?”

Leena mengangguk, meski raut wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran. “Ya, aku ingat. Kita membuat huruf-huruf dari batu di pasir dekat pantai. Tapi setelah badai kemarin, aku khawatir semua batu-batu itu mungkin sudah hilang.”

Lynx mengerutkan dahi. “Kita harus memastikan. Jika tanda itu hilang, kita mungkin perlu membuat yang baru. Selain itu, kita harus memastikan apakah ada jejak orang menemukan tanda yang kita buat, karena bisa saja tanda tersebut masih di sana dan ada yang melihatnya.”

“Kalau begitu, kita harus pergi ke pantai secepatnya untuk melihat kondisi tanda itu,” kata Leena, semangatnya mulai muncul kembali. “Mungkin ada peluang seseorang melihatnya.”

“Ya, tapi kita juga harus berhati-hati. Badai kemarin pasti sudah membawa perubahan pada lingkungan sekitar. Kita perlu memastikan bahwa kita tidak terjebak atau terperangkap di tempat yang berbahaya,” jawab Lynx, menimbang kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Leena menatap Lynx, rasa ingin tahunya muncul. “Tapi bagaimana kita bisa menemukan jalan menuju pantai? Semua terlihat sama di sini.”

Lynx tersenyum, merasa sedikit bangga. “Selama beberapa hari terakhir, aku sudah memperhatikan lingkungan sekitar kita dengan seksama. Aku beusaha mengingat setiap elemen yang bisa kita kenali—seperti bentuk batu, jenis pepohonan dan kondisi saat kita melewatinya. Dengan cara itu, aku yakin bisa memperkirakan lokasi pantai berdasarkan apa yang aku lihat.”

“Oh, luar biasa kamu bisa mengingatnya !” Leena menyahut, mata lebar dengan kekaguman. “Jadi, kita bisa menemukan jalan kembali dengan cara itu?”

“Betul,” jawab Lynx. “Kita bisa berangkat pagi ini dan bersama-sama mencari lagi tanda-tanda yang bisa kita kenali dari perjalanan kita sebelumnya.”

Leena mengangguk setuju. “Kita bisa pergi setelah sarapan.”

“Baiklah,” kata Lynx. “Kita harus memiliki energi yang cukup untuk perjalanan ini.”

Kemudian mereka memakan buah-buahan yang sudah dikumpulkan Lynx selama beberapa hari dengan perasaan campur aduk. Harapan mereka tinggi, namun rasa khawatir akan hasilnya juga mengganggu pikirannya. Apakah tanda SOS mereka ada yang menemukan atau hilang? Dia berdoa dalam hati agar semua usaha mereka tidak sia-sia.

Setelah sarapan, mereka berdua bersiap-siap untuk perjalanan ke pantai. Lynx memberikan tongkat ke Leena untuk berjaga-jaga. Tongkat itu sederhana namun kuat, terbuat dari batang kayu yang kokoh. Saat mencari buah-buahan, Lynx menemukan sebatang kayu yang cukup panjang dan langsung terlintas dalam benaknya untuk mengolahnya menjadi senjata pelindung. Dia menggunakan batu tajam yang ditemukan di sepanjang jalan untuk mengukir dan menajamkan ujung tongkat, menjadikannya runcing dan berbahaya. Dengan cermat, Lynx memastikan ujung yang tajam itu cukup tajam untuk menusuk, tetapi tidak terlalu panjang sehingga membahayakan mereka sendiri.

Lynx memimpin jalan, memerhatikan setiap langkahnya dan memberi tanda-tanda di sepanjang perjalanan untuk memastikan mereka tidak tersesat. Mereka menyusuri jalan setapak yang sempit, dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun, sambil berusaha mengingat tempat-tempat yang mereka kenali sebelumnya.

“Ini sepertinya jalan yang kita lalui,” kata Lynx sambil menunjuk ke arah pohon tumbang yang tampak akrab di mata mereka. “Ingat tidak, kita sempat terjatuh waktu perjalanan kita?”

“Ya, aku ingat,” jawab Leena, mengamati sekitar. “Kita hampir sampai.”

Lynx dan Leena terus melangkah, menyusuri jalur yang berkelok-kelok, berhati-hati agar tidak terjatuh. Mereka saling berbagi cerita untuk mengusir kecemasan, mencoba mengalihkan pikiran mereka dari rasa khawatir yang membayangi perjalanan ini.

Setelah beberapa jam berjalan, mereka menemukan pohon kelapa yang mereka kenali sebelumnya—sebuah tempat di mana mereka pernah memetik buah segar saat mencari makanan. Keduanya merasa senang dan berlari menuju lokasi perlindungan pertama mereka.

Namun, saat mereka sampai di sana, suasana gembira mereka seketika memudar. Apa yang mereka temukan di lokasi perlindungan itu sangat berbeda. Tenda darurat yang mereka dirikan sudah tidak berbentuk, hancur berantakan oleh angin kencang. Aroma basah dan lembap tercium di udara, mencampurkan bau tanah yang basah dengan sisa-sisa kehampaan yang menyedihkan.

Banyak pohon di sekitar mereka roboh, menambah kesan kekacauan akibat badai. Suara gemerisik daun yang tersisa di dahan membuat hati mereka bergetar, menambah rasa tidak pasti yang sudah menghinggapi. Lynx merasakan tenggorokannya tercekat, sementara Leena menatap puing-puing dengan mata lebar, campuran antara ketakutan dan kehilangan menguasai pikirannya. Mereka berdiri terpaku sejenak, mengumpulkan keberanian, seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk.

“Kita beruntung bisa segera pergi malam itu,” kata Lynx, menghela napas. “Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada kita, bisa jadi kita terjebak di sini.”

Leena mengangguk, tetapi raut wajahnya menunjukkan keputusasaan. “Ayo, kita harus segera ke pantai dan melihat tanda SOS.” Leena berkata dengan perasaan khawatir, dia memperkirakan batu batuan yang mereka buat kemungkinan besar sudah rusak terkena badai.

Mereka segera melanjutkan perjalanan menuju pantai. Ketika mereka tiba, harapan mereka seolah sirna. Angin laut berhembus kencang, menambah kesedihan yang melanda mereka. Lautan yang tenang dan ombak yang berdebur menutupi jejak yang pernah mereka buat. Tidak ada tanda SOS yang tersisa. Semuanya tersapu ombak. Ranting-ranting yang mereka kumpulkan dengan susah payah untuk memberi tanda keberadaan mereka sudah tiada.

Leena merasa hancur, dan air matanya mengalir deras. “Tidak! Tidak mungkin!” teriaknya, suaranya pecah dalam kesedihan. “Di mana semua orang? Kenapa tidak ada yang melihatnya? Aku ingin pulang!”

Lynx berusaha mendekat dan memeluknya, tetapi Leena menangis histeris. “Aku tidak mau di sini lagi!” Dia meronta, terisak-isak dengan ketidakberdayaan yang mendalam. Dia melanjutkan tangisannya, semua beban dan rasa kecewa mengalir dalam isak tangisnya.

“Leena,” Lynx berusaha menenangkan, “tenanglah. Kita masih punya satu sama lain. Kita akan mencari jalan lain untuk bertahan. Kita pasti akan selamat.”

Namun, Leena terus merasakan kesedihan yang mendalam. Dalam pelukan Lynx, rasa kehilangan dan kekecewaan melanda seperti gelombang yang tak terhindarkan. Air mata masih mengalir. Lynx tahu betapa berat beban yang harus dipikul Leena, dan dia berusaha memberikan kekuatan yang dibutuhkan untuk melalui masa sulit ini.

Setelah beberapa menit, perlahan-lahan Leena mulai menenangkan diri. Dia menatap laut yang luas, seolah berharap ada jawaban di sana. Dia menarik napas dalam-dalam, menghapus air mata di pipinya, dan menatap Lynx. “Maaf, aku tidak seharusnya seperti ini,” katanya pelan.

“Tidak perlu minta maaf,” jawab Lynx lembut. “Kita semua punya momen seperti ini. Yang terpenting adalah kita bisa saling mendukung.”

Leena mengangguk, merasakan dukungan dari Lynx membuat hatinya sedikit lebih ringan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya.

Lynx berpikir sejenak, lalu berkata, “Bagaimana kalau kita mengumpulkan batu-batu lagi untuk membuat tanda SOS baru? Kali ini, kita bisa memilih lokasi yang lebih aman, jauh dari jangkauan ombak.”

Leena menyetujuinya karena tidak punya pilihan lain. “Itu ide yang bagus! Di mana kita bisa membuatnya?”

“Bagaimana kalau di tepi hutan?” Lynx mengusulkan. “Di sana lebih tinggi, jadi kemungkinan besar tidak akan tersapu ombak. Kita bisa memilih batu-batu besar agar tanda kita lebih terlihat jelas.”

Leena tersenyum tipis. “Aku suka ide itu. Mari kita lakukan!”

Mereka berjalan perlahan-lahan, mengamati setiap sudut pantai dengan seksama. Mereka mulai mencari batu-batu yang tepat di sekitar pantai. Sambil mengumpulkan, Lynx terus berbicara untuk mengalihkan perhatian Leena. “Ingat, kita bisa membuat tanda yang lebih besar dan lebih mencolok kali ini. Kita akan gunakan semua batu yang bisa kita temukan.”

Leena mulai tertawa kecil, “Iya, aku bisa membayangkan betapa besarnya tanda itu nanti. Semoga kali ini ada yang melihatnya.”

“Tapi… Leena, coba bayangkan apa yang akan terjadi ketika seseorang menyelamatkan kita dan melihat dirimu yang telanjang tanpa busana sama sekali…” belum selesai Lynx berkata, Leena langsung memukulnya dengan ranting kecil yang dipegangnya “Lynx..” teriak kesal Leena, “Kita harus segera membuat pakaian, aku sangat tidak suka dengan kondisi kita yang seperti ini, aku merasa jadi tontonan gratis untukmu, aku tidak suka melihat ITU mu selalu terbangun, aku bahkan pingin memukulnya” teriak Leena emosi.

Eh, itu wajar, Leena,” Lynx menjawab, mencoba menenangkan suasana. “Kamu tahu, tubuhmu sangat seksi, dan kamu tidak bisa menyalahkan diriku karena dirimu sendiri yang berkeliaran didepanku, bahkan memelukku. Wajar saja kalau cowok punya reaksi seperti itu. Lagipula, bukankah dirimu bilang aku bisa jadi suamimu kelak karena sudah melihat tubuhmu, kenapa harus malu ?”

Wajah Leena memerah, sambil memukulkan ranting kecil ditangannya ke paha kaki Lynx “Dirimu mimpi, aku tidak akan mau menikah denganmu, apalagi aku tidak suka dengan punyamu yang sangat mengganggu mataku”

Lynx sambil berpura pura kesakitan berkata “Siapa juga yang mau menikah dengan gadis segalak dirimu, selain itu juga aku tidak rugi karena sudah melihat semuanya bahkan menyentuhnya.” kata Lynx semakin menggoda Leena sambil menjulurkan lidahnya.

Mendengar itu, Leena mendadak terdiam dan air mata sedikit terlihat di matanya. “Kau tahu, Lynx, setiap kali kau bercanda seperti itu, aku merasa semakin terpuruk! Kenapa kau tidak mengerti?”

“Leena, maaf, maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu!” Lynx panik dan berusaha mendekatinya. “Dengarkan aku, aku janji akan melakukan apapun yang kau inginkan, asalkan kau berhenti menangis.”

“Jangan berkata seperti itu lagi!” Leena mengeluh lirih sambil menyeka air matanya dan berjongkok. “Aku tidak ingin bercanda mengenai hal itu meskipun kita sudah terbiasa, terkadang aku takut dirimu tidak bisa mengendalikan diri!”

“Leena, maafkan aku.,” Lynx berusaha menenangkan. “Aku pasti akan berusaha melindungimu!” kata Lynx ikut berjongkok berniat memeluknya.

Tapi tiba-tiba, Leena mendorong Lynx hingga jatuh dan berlari menjauh sambil tertawa. Lynx, yang terkejut dan gembira melihat Leena sudah membaik, segera bangkit dan mengejarnya. “Leena, tunggu!” teriaknya, berusaha mengejar sambil tertawa.

Mereka berlari di sepanjang pantai, namun saat Lynx berhasil menangkap Leena, mereka terjatuh ke tanah. Lynx jatuh di atas Leena, dan mereka saling bertatapan. Dalam momen itu, mereka merasakan tubuh mereka memanas, detak jantung terasa lebih kencang, namun mendadak Leena  merasakan lagi hal yang seperti sebelumnya, tubuh bagian bawah Lynx yang mengeras lagi. Dengan cepat, Leena mendorong Lynx sambil cemberut marah. “Lynx! Lagi-lagi kamu mengulangi!”

“Eh, bukan maksudku!” Lynx cepat-cepat menjawab, berusaha menghindar. “Ayo, kita kembali ke gua. Sudah semakin sore dan aku takut kita tidak bisa menemukan arah pulang jika kemalaman.” Kata Lynx berusaha mengalihkan pembicaraan.

Leena, meski masih cemberut, mengangguk setuju. “Baiklah, ayo kita kembali. Tapi jangan sekali lagi bercanda tentang hal itu!”

Mereka segera berdiri dan mulai menelusuri pantai kembali menuju gua, memperhatikan jejak-jejak yang telah mereka buat sebelumnya agar tidak tersesat. Namun, saat mereka berjalan, Leena mendadak mengangkat tangannya dan berkata, “Lynx, aku perlu mencari tempat untuk buang air kecil.”

“Cepatlah, tapi hati-hati,” Lynx menanggapi sambil melirik ke arah hutan yang mengelilingi mereka. “Kita tidak tahu apa saja yang mungkin berkeliaran di sekitar sini.”

Leena menjauh sedikit dari jalan setapak, berusaha menemukan tempat yang aman. Ketika ia menunduk, matanya tertuju pada sesuatu yang mencolok di antara rumput-rumput liar. “Lynx! Lihat ini!” teriaknya, suaranya penuh kegugupan.

Lynx mendekat dan melihat sisa kulit ular yang telah diganti. Kulit tersebut tampak sangat besar, lebih besar dari yang pernah ia lihat sebelumnya. “Wow, ini pasti berasal dari ular raksasa!” serunya, terpesona sekaligus khawatir.

Perasaan cemas mulai menyelimuti mereka berdua. Leena merasakan ketegangan melingkupi udara di sekeliling mereka. “Jangan-jangan ular itu masih berada di sekitar sini,” bisiknya dengan suara bergetar, menggenggam tangan Lynx dengan erat.

“Kita perlu memeriksa keadaan sekitar,” Lynx menyarankan, matanya menyapu area sekeliling dengan penuh perhatian. Mereka bergerak perlahan, mencoba mendengarkan setiap suara yang datang dari hutan yang sunyi. Namun, suasana yang awalnya tenang tiba-tiba pecah oleh suara gemerisik di semak-semak yang agak jauh dari tempat mereka berdiri.

Mereka berdua terhenti seketika, saling bertukar tatapan penuh kecemasan. “Apa itu?” tanya Leena, nada suaranya bergetar penuh ketakutan.

Tiba-tiba mereka mendengar suara geraman yang mengerikan dari arah tersebut. Lynx segera menarik tangan Leena, menghentikan langkahnya. "Diam!" bisiknya, suaranya penuh ketegangan.

Mereka berdua dengan cepat mencari tempat berlindung di balik sebatang pohon besar yang tumbuh lebat, cukup jauh dari posisi macan tutul yang sedang mengawasi area tersebut. Lynx menahan napas, berusaha meredam detak jantungnya yang berpacu, sementara Leena menggenggam tangan Lynx dengan erat sambil memegang tongkatnya. Dalam posisi seperti itu, mereka saling berpandangan, menyadari betapa gentingnya situasi ini.

Macan tutul, dengan bulu bercorak indahnya, tampak melangkah dengan hati-hati, mengecek sekeliling. Mereka tidak dapat melihat wajahnya, tetapi dapat merasakan aura berbahayanya. Beruntung, posisi angin berlawanan membuat aroma tubuh mereka tidak tercium. Lynx berbisik, “Kita harus tetap diam sampai ia pergi.”

Waktu terasa berjalan lambat saat mereka menunggu, suara napas macan tutul yang berat terdengar jelas. Lynx merasakan Leena bergetar di sampingnya, dan dia mencoba menenangkannya. “Kita aman di sini. Cukup tunggu sebentar lagi.”

Mereka berdua mengawasi setiap gerakan macan tutul dengan ketakutan dan rasa ingin tahu. Predator itu menyisir daerah sekitarnya, mungkin mencari mangsa lain. Dengan sabar, Lynx dan Leena tetap diam, berusaha tidak membuat suara.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, macan tutul mulai berbalik ke arah lain, dan melangkah menjauh dari mereka. Ketika Lynx dan Leena merasa cukup yakin bahwa macan tutul telah pergi, Lynx perlahan-lahan mengeluarkan napas yang sudah ditahannya.

“Apakah kita sudah aman?” tanya Leena, suaranya bergetar.

“Sepertinya begitu,” jawab Lynx, masih memperhatikan sekeliling sebelum akhirnya melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka. “Ayo, kita kembali ke gua. Jangan sekali lagi mengambil risiko seperti ini.”

“Lynx,” Leena mulai berbicara sambil mengatur napasnya, “apa yang membuat macan itu muncul tiba-tiba? Kita tidak pernah melihatnya sebelumnya.”

Lynx menggelengkan kepala, matanya masih waspada. “Aku juga tidak tahu. Mungkin sedang mencari mangsa. Kita harus bersyukur tidak pernah bertemu makhluk ini sebelumnya.”

“Benar,” Leena setuju, wajahnya masih tampak cemas. “Sejak kita berada di sini, sudah ada ular besar dan buaya yang kita lihat. Kenapa semuanya muncul bersamaan?”

Lynx teringat dengan sorot mata yang sering dia lihat di malam hari saat berjaga,”Apakah mungkin macan tutul itu? Jika iya, mereka harus lebih berhati-hati lagi.” kata Lynx dalam hati tidak ingin membuat Leena khawatir.

Leena mengangguk, wajahnya tampak tegang. “Aku seharusnya tidak mengabaikan tanda-tanda itu. Dan sekarang aku jadi tidak ingin buang air kecil lagi, deh! Rasanya tadi sudah kebelet, tapi melihat macan itu, semua niatku langsung hilang.”

Lynx tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Baguslah kalau begitu, kita bisa tunda dahulu rencana buang air kecilmu untuk saat ini sampai kita benar benar aman, jangan sampai macan itu kembali mencium aroma kencingmu” Kata Lynx bercanda untuk menghilangkan ketakutan mereka.

Leena tertawa kecil, meskipun ketegangan masih menyelimuti mereka. “Baiklah, tapi kita harus lebih memperhatikan semua yang ada di sekitar kita.”

“Setuju,” kata Lynx, lalu mengarahkan langkah mereka kembali ke gua, lebih waspada terhadap setiap suara dan gerakan di sekitar mereka.

Saat mereka berjalan, pikiran Lynx mulai melayang ke arah perlindungan. “Kita harus melakukan sesuatu untuk memastikan keselamatan kita,” pikirnya, merencanakan langkah-langkah selanjutnya di dalam benaknya. “Jika saja kita bisa membuat jebakan atau senjata sederhana, kita bisa lebih siap menghadapi makhluk-makhluk berbahaya ini.”

Ia melihat sekitar, mencari bahan-bahan yang mungkin berguna. “Mungkin kita bisa menggunakan cabang-cabang kayu yang kuat untuk membuat semacam jebakan sederhana di sekitar gua,” rencananya. “Atau kita bisa mencari batu-batu tajam untuk dijadikan alat pertahanan jika ada bahaya.”

Dengan semangat, Lynx membagikan idenya kepada Leena. “Kita perlu mengumpulkan beberapa bahan dari sini. Jika kita bisa membuat jebakan di pintu masuk gua, setidaknya kita bisa memperingatkan diri sendiri jika ada yang datang.”

Leena mendengarkan dengan seksama, mengangguk. “Itu ide yang bagus, Lynx. Tapi kita juga harus cepat, sebelum malam tiba. Kita tidak ingin berada di luar saat kegelapan menyelimuti.”

“Benar,” Lynx setuju, merasakan rasa tanggung jawab yang semakin kuat untuk melindungi Leena. “Andai saja kita punya parang atau pisau disini” keluh Lynx dalam hati.
